Laman

Minggu, 17 Oktober 2010

Dosen Juga Manusia, Lha Mahasiswanya Apa Dong?


“Didiklah anak-anakmu, sebab kamu akan mengalami zaman yang berbeda dengan zaman kamu.” ( hadits )
Lebih kurang 6 bulan saya (sudah) menjadi mahasiswa. Dan lebih kurang 6 bulan itu pula saya merasakan bagaimana menjadi mahasiswa.terlebih saya mahasiswa istimewa dari segala-galanya!
Ya, istimewa dari segala usia.Angkatan tahun pelajaran. Serta daya tangkap pula tentunya. Ironi memang bila mendengarnya. Dikarenakan saya mahasiswa yang super lambat, haha……………..tapi lagi-lagi itu kembali pada masing-masing individu. Entah, ingin kembali ke bangku kuliah atau tidak itu soal pilihan hak masing-masing. Halnya hak mahasiswa ingin mendapatkan disiplin ilmu yang belum didapatinya dan belum dikuasainya.
Sayangnya apa yang diinginkan seorang mahasiswa belum tentu setali uang dengan dosen. Atau, dengan seorang pendidik di bangku perkuliahan. Malah ini sebaliknya seorang dosen hanya member disiplin ilmu dan cara mendidiknya sesuai pengamatan dan pengalamannya sewaktu ia pernah menjadi mahasiswa__dan tampa melihat perkembangan yang berlaku. Kalau sudah begitu mahasiswa hanya bisa gigit jari tanpa bisa membela apalagi memprotesnya.
“Guru kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”
Boleh jadi pepatah ini terus menerus berlarut-larut dijadikan patokan seorang mahasiswa saya rasa tentunya__menjadi mahasiswa itu sendiri tidak akan mempunyai ras tanggung jawab. Sehingga seorang filsuf inggris Jhon Locke menyatakan hati seorang anak (calon mahasiswa baru) merupakan tabul rasa, mempunyai arti ; kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang diberikan oleh dosen kepadanya. Kalau sudah begitu mahasiswa halnya hanya menjadi kelinci percobaan saja.
Seperti yang pernah saya dan kawan alami serta mahasiswa lainnya sendiri dimana ketika ada beberapa mata kuliah tak dimengerti dan sulit untuk dipahami. Ini bukannya dibahas malah sebaliknya didahulukan dan dibiarkan. Malah sebaliknya dosen tersebut menganut asas MLDL : Masalah Lalu Derita Lu!. Ibarat seperti keledai yang diberi buku bertumpuk-tumpuk tapi gak tau mesti digunakan untuk apa. Bukan itu saja bahkan jika ada dosen yang semacam ini jika mengajar hanya untuk mereka yang ber-IQ tinggi lebih didepankan dan di agung-agungkan lalu bagi mereka yang ber-IQ setengah matang, Ma’af akan dianggap angin lalu. Halnya banyak yang dialami mahasiswa lainnya. Dan itulah manusia yang bernama dosen.
Benar juga apa yang dikatakan oleh kawan saya yang pernah mengisi angket pada beberapa waktu yang lalu tentang dosen dan mata kuliah apa yang paling menyenangkan. “Kalau sudah ada di perkuliahan (di dalam kelas) yang menjadi penguasa saat itu adalah dosen. Lu ber-IQ jongkok atau nggak, mau nggak mau lu harus ikuti apa kata dosen. Walaupun lu protes atau nggak nilai ada ditangannya”.
Begitu sepenggal yang diceritakan oleh kawan saya. Jika dikampus memang ada diantara dosen yang semacam itu. Lebih care mahasiswa yang ber-IQ tinggi ketimbang mahasiswa ber-IQ setengah matang. Tanpa memperhatikan mahasiswanya lagi. Itu mahasiswa mau ngerti atau nggak. EGP ajjjah! Apalagi mahasiswa yang punya kapasitas otak berpentium 1. Beberapa kali harus belajar mengulang sampai dua atau tiga hari baru loading. Begitulah nasib mahasiswa yang lemah otak, ber-IQ setengah matang!.
Entahlah kalau disetiap kampus ada dosen seperti itu bagaimana mahasiswanya bisa maju. Apalagi mahasiswa semacam yang saya katakan tadi di atas pastinya maju……maju di tempat kaleeee……! Kalau sudah begitu, apa harus berlaku sebutan : “namanya juga Dosen, kan manusia..?? Lha kalau sudah begitu mahasiswanya apa..?? genderowo? Bebegik? Atau, Koloer ijoe?”. Nah, kalau mahasiswa macam ber-IQ setengah matang apa donk namanya???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pagerankmu

PageRank